Cybercrime hacking dan cracker

Hubungan Cyberspace dan Cybercrime dengan Social Media

Posted on

Nama : Hasna Afifah

NIM : 2005551019

Prodi/Fakultas/Universitas : Teknologi Informasi/Teknik/Udayana

Mata Kuliah : Aplikasi Sosial Media (A)

Dosen : I Putu Agus Eka Pratama, S.T., M.T.

Hubungan Cyberspace dan Cybercrime dengan Social Media. Di artikel sebelumnya saya telah membahas hubungan cyberspace dan social media. Sekarang saya akan melanjutkannya ke materi Cybercrime dan Cyberspace.

Jika kita perhatikan dikehidupan sehari-hari atau dilingkungan kita, pasti selalu ada keragaman (ketidak samaan). Baik dengan orang lain atau bahkan dengan saudara sendiri.

Semakin lama pengguna internet semakin banyak, rata-rata pengguna terbesar ada di USA. Pengguna sosial media pun beragam mulai dari pemula hingga yang sudah expert. Maka beragam pula tingkat kewaspadaan dan kepedulian mereka terhadap keamanan sistem dan privasi.

Sama halnya dengan Cyberspace di internet, dengan adanya keberagaman karakteristik di internet dan cyberspace. Hal itu menjadikan adanya beragam pengguna di internet, terutama pengguna di aplikasi social media. Dari keberagaman pengguna di social media inilah kita akan melanjutkan ke materi Cybercrime.

Pengertian Cybercrime

Cybercrime merupakan kejahatan dunia maya, yaitu istilah yang mengacu kepada aktivitas kejahatan dengan komputer atau jaringan komputer menjadi alat, sasaran atau tempat terjadinya kejahatan

Jika dilihat berdasarkan itikadnya, cybercrime itu ada 2 :

1. Hacking

Hacking merupakan kejahatan komputer namun itikadnya baik, seseorang melakukannya atas dasar keingintahuan, sejatinya bukan termasuk dalam kejahatan dunia maya. Karena yang dilakukannya mampu menambal celah keamanan pada suatu sistem. Atau dapat berupa penemuan inovasi seperti internet, komputer, dll.

Yang dimaksud dengan itikad baik, artinya hacking itu meretas untuk tujuan baik, salah satunya dengan disadari maupun tidak disadari yang menimbulkan inovasi. Contoh inovasi dari hacking ini berupa, jaringan internet, karena dulu jaringan hanya untuk internal laboritatium riset di usa. Ketika di hack dan dipelajari konsepnya maka jaringan bisa melebar luas hingga ke negara-negara lain. Yaitu dengan adanya ip address, ip public, subnet, dll, yang menjadi bukti inovasinya.

Kemudian ada penemuan komputer yang sangat besar kemudian muncullah smartphone yang bisa kita gunakan sehari-hari. Dan ada juga software ataupun aplikasi-aplikasi lainnya yang kita gunakan saat ini.

2. Cracker

Kalau Cracker ini itikadnya tidak baik, yaitu dengan tujuan memperoleh keuntungan pribadinya. Mungkin dapat berupa kepuasan pribadi diantaranya pujian/pamer, mencuri data dan diperjual belikan secara ilegal, politik, hingga ekonomi(uang).

Bentuk Kejahatan Cybercrime

Carding berupa pencurian CC (Kartu Kredit), pada awal tahun 2000-an. Pada masa itu data-data sangat mudah didapatkan, karena teknologi pada saat itu belum sebaik sekarang.

Kemudian ada Hijcasking, Deface, DOS/DDOS, itu mulai terkenal pada era dot com, sekitar tahun 2000-an saat sedang ramainya dunia perwebsite-an.

Penyebaran virus, worm, malware, trojan, menanam rootkit dan backdoor ke dalam aplikasi/ komputer/ server/ sistem orang lain. Cyber terorism, ujaran kebencian, hoax, manipulasi data/fakta, pengintaian (spionase), dll

Konsep dari Cybercrime ini adalah “Coret halaman rumahnya, dan matikan layanannya” . Konsep seperti ini biasanya menggunakan port service dan index web.

Cyber Terorism itu mulai terkenal pada tahun 2001. Ketika muncul istilah terorism, internet sudah masuk ke Indonesia namun belum sebaik sekarang. Kalau ujaran kebencian, ini di Indonesia sudah ada beberapa kasus yang dikaitkan dengan UU ITE. Paling banyak melibatkan Sosial Media.

Penanganan hacking sendiri di Indonesia sudah di handle oleh KEMKOMINFO. Mereka berusaha menjaga keamanan data Indonesia agar tidak jatuh ke tangan orang lain. Tindakan Cybercrime yang memiliki itikad tidak baik, atau yang biasa disebut dengan Cracker. Tentunya akan melakukan berbagai cara untuk menghilangkan jejaknya dari dunia maya. Biasanya disebut dengan Digital Forensic agar keberadaannya sulit ditemukan.

Langkah yang dilakukan Hacker maupun Cracker

Teknis yang dilakukan sangat banyak, ada target, ada alamat, dan ada celah keamanan, lalu ia masuk dan menghilangkan jejak (Digital Forensic). Biasanya Hacker atau Cracker mengambil celah melalui port-port.

Port adalah mekanisme yang mengizinkan sebuah komputer untuk mendukung beberapa sesi koneksi dengan komputer lainnya dan program di dalam jaringan. Port dapat mengidentifikasikan aplikasi dan layanan yang menggunakan koneksi di dalam jaringan TCP/IP.

Perumpamannya adalah port itu adalah lubang-lubang yang diberi nomor, kemudian setiap nomor itu mempunyai service atau layanan untuk penggunanya. Misalnya kita mempunyai port layanan web, yaitu berupa HTTPS nomor portnya 80. Ada juga port FTP yaitu 21, dan masih banyak lagi contoh port lainnya.

Contoh kasus Cybercrime Cracker

Kasus penyebaran virus WannaCry, virus itu hampir menyerang komputer diseluruh dunia. Virus WannaCry itu bisa mengunci seluruh data komputer seseorang dengan teknis-teknsi yang dilakukan oleh cracker. Disitulah peran enkripsi, kalau komputer kamu terkena serangan virus ini, kamu akan diminta untuk bayar. Dan tujuan membayarnya untuk mendapatkan kunci tersebut.

Pada dasarnya si cracker mencoba mengcrack data enkripsi yang kita miliki, kemudian data-data akan mengalami kerusakan atau eror, untuk memperbaikinya dengan cara membeli kunci dari cracker tersebut. Sistem pembayarannya dengan melalui wallet bitcoin. Nama sistemnya adalah cryptocurrency, dan ia masuk ke blockchainnya.

Blockchain sendiri adalah sistem penyimpanan data digital berisikan catatan yang terhubung melalui kriptografi. Salah satunya seperti bitcoin, wallet, dll.

Kesimpulan

Secara singkat hubungan antara Cyberspace dan Cybercrime dengan Social Media. Cyberspace itu merupakan dunia maya yang berada di internet. Internet itu tempatnya sangat luas dan sangat benyak penggunanya.

Dengan pengguna yang beragam karakteristik. Dari keragaman karakteristik itulah muncul adanya Cybercrime yang berupa tindakan kejahatan dunia maya. Cybercrime ini sendiri dibagi 2 yaitu hacking dan cracker, hacking dengan itikad baik, sedangkan cracker dengan itikad jahat.

Yang merugikan disini adalah cracker, dimana cracker melakukan peretasan data atau merusak suatu sistem untuk keuntungan pribadinya. Keamanan pada sistem atau data juga tidak selamanya akurat, maka dari itu hacking berperan untuk mencari celah keamanan kemudian menambalnya.

Bentuk Cybercrime ini banyak, ada ujaran kebencian, hoax, manipulasi data dll. Untuk mengatasi hal ini di Indonesia dibentuk adanya UU ITE, yang bertujuan untuk meminimalisir tindakan seperti itu. Upaya pengamanan yang dapat dilakukan dalam sosial media contohnya seperti beberapa kali bisa lakukan penggantian kata sandi.

Sekian pembahasan materi yang dapat saya jelaskan, mohon maaf apabila ada salah kata maupun pemahaman. Semoga materi ini dapat bermanfat untuk kita semua.

SUMBER REFERENSI

Pemaparan Materi Pertemuan Kelima dari Dosen Pengampu I Putu Agus Eka Pratama, S.T., M.T. via chat Telegram Grup

Capture Kehadiran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *